CERPEN PERSAHABATAN
”Kancil yang Cerdik dan Buaya yang Baik Hati”
Mentari pagi menyapa hutan dengan hangat, menyapa dedaunan hijau yang bergoyang lembut ditiup angin sepoi-sepoi. Di tengah rimbunnya pepohonan, seekor kancil bernama Ciko berlarian dengan lincah, ekornya yang putih bergetar-getar. Ciko terkenal di hutan karena kecerdikannya. Ia selalu berhasil lolos dari jebakan dan tipu daya para pemangsa.
Hari ini, Ciko sedang mencari makan. Ia berniat mencari buah-buahan yang manis dan berair di tepi sungai. Namun, saat ia mendekati sungai, ia mendengar suara gemuruh yang aneh. Ciko mengintip dari balik semak dan melihat seekor buaya besar dengan rahang yang mengerikan sedang berjemur di tepi sungai.
Ciko gemetar ketakutan. Ia tahu bahwa buaya adalah pemangsa yang berbahaya, dan ia tidak ingin menjadi santapan si buaya raksasa itu. Ciko berencana untuk berbalik dan lari, tetapi ia teringat akan kecerdikannya. Ia memutuskan untuk menggunakan kecerdikannya untuk mengelabui si buaya.
Ciko berdehem pelan dan berkata, "Hai, Tuan Buaya! Apakah Anda sedang berjemur di pagi hari yang cerah ini?"
Buaya itu membuka matanya yang kuning dan menatap Ciko dengan malas. "Ya, Kancil kecil. Aku sedang menikmati sinar matahari pagi," jawabnya dengan suara yang berat dan serak.
"Wah, sungguh pemandangan yang indah," kata Ciko, sambil mendekat perlahan. "Apakah Anda tahu, Tuan Buaya, saya sedang mencari buah-buahan yang manis dan berair di seberang sungai. Sayangnya, saya tidak bisa berenang. Bisakah Anda membantu saya menyeberangi sungai?"
Buaya itu mengerutkan keningnya. "Membantu menyeberangi sungai? Mengapa aku harus membantumu?" tanyanya dengan curiga.
"Karena saya adalah teman Anda, Tuan Buaya," jawab Ciko dengan cepat. "Saya tahu Anda adalah makhluk yang baik hati dan suka menolong. Saya yakin Anda tidak akan tega melihat saya kesulitan."
Buaya itu terdiam sejenak, merenungkan perkataan Ciko. Ia memang dikenal sebagai makhluk yang baik hati, dan ia tidak suka melihat makhluk lain dalam kesulitan. Namun, ia juga tahu bahwa kancil adalah makhluk yang licik dan suka menipu.
"Baiklah, Kancil kecil," kata Buaya akhirnya. "Aku akan membantumu menyeberangi sungai. Tapi, kau harus berjanji untuk tidak menipuku."
"Tentu saja, Tuan Buaya," jawab Ciko dengan gembira. "Saya tidak akan pernah menipumu. Saya berjanji."
Buaya itu membuka mulutnya lebar-lebar, memperlihatkan deretan giginya yang tajam. "Naiklah ke punggungku, Kancil kecil," katanya.
Ciko dengan hati-hati menaiki punggung buaya. Ia merasa sedikit takut, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang. Ia tahu bahwa ia harus berhati-hati agar tidak jatuh ke dalam rahang buaya.
Buaya itu mulai berenang ke seberang sungai. Ciko merasakan tubuhnya bergoyang-goyang di atas punggung buaya. Ia melihat air sungai yang mengalir deras di bawahnya. Ia juga melihat ikan-ikan kecil yang berenang kesana kemari.
"Tuan Buaya," kata Ciko tiba-tiba. "Apakah Anda tahu, saya mendengar bahwa di seberang sungai ada pohon mangga yang buahnya sangat manis dan berair. Saya ingin sekali mencicipinya."
Buaya itu berhenti berenang dan menatap Ciko dengan curiga. "Pohon mangga? Di seberang sungai?" tanyanya.
"Ya, Tuan Buaya," jawab Ciko. "Saya mendengarnya dari burung-burung yang terbang di atas sungai. Mereka mengatakan bahwa pohon mangga itu sangat lebat dan buahnya sangat manis."
Buaya itu tergiur dengan cerita Ciko. Ia memang sangat suka makan buah mangga. Ia pun berbalik arah dan berenang menuju pohon mangga yang dimaksud Ciko.
"Tuan Buaya," kata Ciko lagi. "Saya ingin sekali mencicipi buah mangga itu. Bisakah Anda menunggu saya di sini sebentar? Saya akan mengambil beberapa buah mangga untuk kita berdua."
Buaya itu mengangguk setuju. Ia merasa sedikit curiga, tetapi ia tidak ingin mengecewakan Ciko. Ia pun menunggu Ciko di bawah pohon mangga.
Ciko melompat turun dari punggung buaya dan berlari menuju pohon mangga. Ia mengambil beberapa buah mangga yang matang dan manis. Ia kemudian berlari kembali ke tepi sungai dan berteriak, "Tuan Buaya! Saya sudah mendapatkan buah mangga! Ayo kita makan bersama!"
Buaya itu menoleh ke arah Ciko. Ia melihat Ciko sedang berlari ke arahnya, tetapi ia tidak melihat buah mangga di tangan Ciko.
"Di mana buah mangganya, Kancil kecil?" tanya Buaya dengan curiga.
"Oh, Tuan Buaya," jawab Ciko dengan licik. "Saya sudah memakannya semua. Maaf, saya terlalu lapar."
Buaya itu marah. Ia merasa telah ditipu oleh Ciko. Ia membuka mulutnya lebar-lebar dan hendak menerkam Ciko.
"Tunggu, Tuan Buaya!" teriak Ciko. "Jangan marah! Saya punya ide yang lebih baik. Saya tahu tempat yang lebih baik untuk mendapatkan buah mangga. Ayo kita pergi ke sana!"
Ciko kemudian mengajak Buaya ke tempat lain. Ia membawa Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti Ciko.
Ciko kemudian mengajak Buaya ke sebuah rawa yang penuh dengan pohon mangga. Buaya itu tergiur dengan banyaknya buah mangga di rawa itu. Ia pun lupa akan rasa marahnya dan mengikuti
Comments
Post a Comment